Tulisan
ini dibuat karena pikiran-pikiran saya yang terus terbayang-bayang mengapa
Indonesia negara yang kaya belum bisa maju, belum bisa mengatasi kemiskinan di
negaranya sendiri, seakan membiarkan rakyatnya terkatung-katung.
Saya
jadi teringat pada masa SMA, ketika itu saya merasa pelajaran yang diberikan
itu sangat sulit, saya pun berusaha dengan mengikuti bimbel walaupun begitu
hasilnya tidak terlalu signifikan dari yg diharapkan. Apakah saya bodoh? Pertanyaan
itu terus berkeliaran di otak saya, di SMA pun ada nilai ‘kasih sayang’ yang
diberikan karena sikap dan kehadiran dan dibalik semua itu ternyata bukan saya
saja yang merasa kesulitan tapi teman-teman saya pun demikian. Pelajaran yang
dituntut dikuasai tergolong banyak dan semuanya dituntut untuk mendapatkan
hasil yang bagus alhasil para siswa melakukan segala cara seperti mencontek dan
saling bekerja sama supaya mendapatkan hasil yang maksimal. Memang ada
segelintir orang yang tetap memegang teguh kejujuran tapi itu hanya sekitar
0,01% dan hal itu sebenarnya sudah menjadi rahasia umum yang belum ada
penyelesaiannya sampai sekarang. Dari dulu sampai sekarang selalu saja ada
kasus seperti itu. Apa mental para siswa bobrok? Apa sistem pendidikan yang terlalu
memaksa membuat para siswa menjadi bobrok?
Setelah
saya telaah, 2 tahun setelah saya lulus SMA yaitu pada saat saya berkuliah
pendidikan SMA hanya teoritis dan tidak ada penerapan di bidang kehidupan
nyata, sehingga seakan-akan hanya berandai-andai tanpa tau apa yang ingin
dicari. Mungkin untuk beberapa orang yang pintar mereka bisa melakukannya,
tetapi apakah parameter murid yang biasa-biasa saja tidak dihitung? Apakah
perlu dibuat pemaksaan? Pelajaran yang dipelajari ujung-ujungnya karena
bersifat teoritis dan hafalan hanya diingat pada saat tes maupun ujian saja.
Ketika ditanya 1 bulan kemudian saja pasti sudah lupa tentang pelajaran
tersebut. Untuk itu perlu di garisbawahi tujuan pembelajaran tidak hanya
mencerdaskan para siswa atau membuat memahaminya tetapi membuat suatu karya
nyata dalam kehidupannya. Karena hal tersebut akan diingat oleh memori jangka panjang
dan membuat para siswa lebih menegrti.
Jika
SDM Indonesia belum siap menerima pelajaran yang dirasa sulit dan terlalu
banyak. Mengapa tidak dibuat pengelompokkan sajaa. Toh pada akhirnya yang
dipelajari akan mengerucut dan ilmu-ilmu yang sebelumnya dipelajari sebelumnya
hanya mengetahui dasar-dasarnya saja..
Menurut saya hal yang perlu diwajibkan adalah membaca dan
menuliskannya dalam sebuah karya.