Kamis, 27 Oktober 2016

MERENUNGI KEKACAUAN NEGARA INDONESIAKU


                Tulisan ini dibuat karena pikiran-pikiran saya yang terus terbayang-bayang mengapa Indonesia negara yang kaya belum bisa maju, belum bisa mengatasi kemiskinan di negaranya sendiri, seakan membiarkan rakyatnya terkatung-katung.
                Saya jadi teringat pada masa SMA, ketika itu saya merasa pelajaran yang diberikan itu sangat sulit, saya pun berusaha dengan mengikuti bimbel walaupun begitu hasilnya tidak terlalu signifikan dari yg diharapkan. Apakah saya bodoh? Pertanyaan itu terus berkeliaran di otak saya, di SMA pun ada nilai ‘kasih sayang’ yang diberikan karena sikap dan kehadiran dan dibalik semua itu ternyata bukan saya saja yang merasa kesulitan tapi teman-teman saya pun demikian. Pelajaran yang dituntut dikuasai tergolong banyak dan semuanya dituntut untuk mendapatkan hasil yang bagus alhasil para siswa melakukan segala cara seperti mencontek dan saling bekerja sama supaya mendapatkan hasil yang maksimal. Memang ada segelintir orang yang tetap memegang teguh kejujuran tapi itu hanya sekitar 0,01% dan hal itu sebenarnya sudah menjadi rahasia umum yang belum ada penyelesaiannya sampai sekarang. Dari dulu sampai sekarang selalu saja ada kasus seperti itu. Apa mental para siswa bobrok? Apa sistem pendidikan yang terlalu memaksa membuat para siswa menjadi bobrok?
                Setelah saya telaah, 2 tahun setelah saya lulus SMA yaitu pada saat saya berkuliah pendidikan SMA hanya teoritis dan tidak ada penerapan di bidang kehidupan nyata, sehingga seakan-akan hanya berandai-andai tanpa tau apa yang ingin dicari. Mungkin untuk beberapa orang yang pintar mereka bisa melakukannya, tetapi apakah parameter murid yang biasa-biasa saja tidak dihitung? Apakah perlu dibuat pemaksaan? Pelajaran yang dipelajari ujung-ujungnya karena bersifat teoritis dan hafalan hanya diingat pada saat tes maupun ujian saja. Ketika ditanya 1 bulan kemudian saja pasti sudah lupa tentang pelajaran tersebut. Untuk itu perlu di garisbawahi tujuan pembelajaran tidak hanya mencerdaskan para siswa atau membuat memahaminya tetapi membuat suatu karya nyata dalam kehidupannya. Karena hal tersebut akan diingat oleh memori jangka panjang dan membuat para siswa lebih menegrti.
                Jika SDM Indonesia belum siap menerima pelajaran yang dirasa sulit dan terlalu banyak. Mengapa tidak dibuat pengelompokkan sajaa. Toh pada akhirnya yang dipelajari akan mengerucut dan ilmu-ilmu yang sebelumnya dipelajari sebelumnya hanya mengetahui dasar-dasarnya saja..

Menurut saya hal yang perlu diwajibkan adalah membaca dan menuliskannya dalam sebuah karya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar